
Dari semua parameter kimia air kolam, pH adalah yang paling sering bikin masalah di lapangan. Bukan karena susah dikontrol, tapi karena banyak yang tidak cukup sering mengeceknya. Saya sudah ketemu banyak kolam yang pemiliknya rajin masukkan kaporit tapi tidak pernah cek pH — hasilnya chlorine banyak tapi air tetap tidak jernih. Ini bukan salah chlorine-nya. pH kolam renang idealnya ada di kisaran 7,2–7,6. Ini bukan angka sembarang — di rentang ini, chlorine bekerja paling efektif, air tidak terasa perih di mata, dan material kolam paling terlindungi. Keluar dari rentang ini di kedua arahnya punya konsekuensi berbeda. pH terlalu rendah (di bawah 7,0): air jadi korosif. Fitting besi berkarat, pompa terkorosi, tile grouting terkikis pelan-pelan. Saya pernah lihat kolam yang pompa stainless-nya keropos hanya dalam dua tahun karena pH airnya konsisten di angka 6,5. Owner tidak pernah rutin cek. Kulit dan mata juga akan terasa perih kalau berenang di pH rendah — meski kadar chlorine-nya bagus. pH terlalu tinggi (di atas 7,8): chlorine jadi tidak efektif meski dosisnya banyak. Ini yang sering bikin bingung — sudah masukin kaporit banyak, air tetap tidak jernih atau malah mulai menghijau. Bisa juga muncul scaling: endapan keputihan di dinding kolam dan equipment. Untuk menaikkan pH: pakai soda ash (sodium carbonate). Dosis standar sekitar 100 gram per 10 m³ untuk menaikkan pH sekitar 0,2 poin. Larutkan dulu di ember, baru masukkan ke kolam dengan pompa menyala. Perlu dicatat, soda ash juga menaikkan alkalinity — jadi kalau alkalinity sudah tinggi, pertimbangkan sodium bicarbonate sebagai alternatif yang lebih halus efeknya. Untuk menurunkan pH: pakai HCL (hydrochloric acid). Ini yang paling efektif dan paling umum dipakai di lapangan. Cara menuangkannya: encerkan dulu di ember air banyak, aduk, baru masukkan ke kolam. Jangan tuang langsung ke kolam dalam kondisi konsentrat — bahaya ke equipment dan tile. Selalu pakai sarung tangan dan hindari menghirup uapnya. Di Bali, ada beberapa hal yang memengaruhi pH secara konsisten. Pertama, air sumur di banyak area Gianyar dan Ubud cenderung punya alkalinity tinggi — artinya pH airnya lebih cenderung naik secara alami. Kalau sumber air seperti ini, frekuensi penggunaan HCL akan lebih sering. Kedua, musim kemarau dan debu: partikel debu yang masuk kolam bisa sedikit menaikkan pH, terutama kolam outdoor di pinggir sawah atau jalan berbatu. Ketiga, tablet chlorine (trichlor) punya efek menurunkan pH setiap kali dipakai — ini salah satu trade-off penggunaan tablet dibanding granular, butuh lebih sering monitor pH-nya. Satu kebiasaan yang saya sarankan ke semua owner villa: tes pH minimal dua sampai tiga kali seminggu. Kalau kolam outdoor dan sering kena hujan atau banyak tamu, setiap hari. Test kit pH murah dan prosesnya cepat. Ini investasi kecil yang bisa mencegah masalah besar dan menghemat biaya chemical dalam jangka panjang.