
Ozone atau O₃ adalah oksidan yang sangat kuat — jauh lebih kuat dari chlorine untuk membunuh bakteri, virus, dan organisme berbahaya di air. Sistem ozone untuk kolam bekerja dengan menghasilkan gas ozone dari udara menggunakan corona discharge atau UV, kemudian menginjeksikan ozone tersebut ke dalam aliran air sistem kolam. Kontak dengan ozone di dalam contact chamber atau pipa mensterilkan air sebelum kembali ke kolam. Keunggulan yang sering diklaim sistem ozone: air yang lebih jernih dengan kejernihan yang lebih "sparkly" dibanding kolam chlorine biasa, tidak ada bau chlorine, tidak ada chloramine, air lebih lembut di kulit, dan secara keseluruhan pengalaman berenang yang lebih nyaman. Klaim-klaim ini cukup akurat untuk sistem yang dipasang dengan benar. Tapi ada hal fundamental yang sama dengan UV sterilizer: ozone tidak memiliki residual effect di dalam air kolam. Gas ozone larut dalam air dan bereaksi sangat cepat — dalam hitungan detik sampai menit, ozone yang terlarut sudah terurai menjadi oksigen biasa. Tidak ada ozone yang "bertahan" di dalam kolam sebagai disinfektan. Ini berarti kolam tetap perlu sejumlah kecil chlorine sebagai residual disinfektan untuk perlindungan di seluruh volume air — biasanya 0,3–0,5 ppm sudah cukup kalau sistem ozone berfungsi baik. Pertimbangan yang perlu diperhatikan: ozone dalam konsentrasi tinggi berbahaya untuk dihirup manusia. Sistem ozone kolam yang baik harus memastikan tidak ada ozone berlebih yang bisa keluar ke udara di area kolam — ini diatur melalui off-gas destructor atau vent yang tepat. Instalasi yang tidak benar bisa menjadi masalah keamanan. Biaya sistem ozone kolam yang proper cukup tinggi — generator, contact chamber, controller, dan instalasi. Untuk villa yang sudah beroperasi dengan baik menggunakan chemical konvensional, payback period dari penghematan chemical bisa panjang. Lebih relevan untuk villa baru yang sedang merancang sistem dari awal, atau untuk operator yang ingin menawarkan "chemical-reduced pool" sebagai selling point premium.