
Bau belerang atau seperti telur busuk dari kolam renang bukan hal yang sering ditemui, tapi ketika terjadi, sangat tidak nyaman dan tidak mudah didiagnosis dengan cepat kalau tidak tahu apa yang dicari. Penyebab paling umum bau belerang di kolam adalah bakteri sulphur-reducing — organisme anaerob yang menghasilkan hydrogen sulfide (H₂S) sebagai produk sampingan metabolisme. Bakteri ini hidup di kondisi tanpa oksigen — di dalam sedimen yang mengendap di dasar kolam, di dalam filter yang jarang dibersihkan, atau di zona dead spot yang sirkulasinya sangat buruk. Kalau filter kolam tidak pernah dibersihkan dalam waktu sangat lama dan ada akumulasi material organik yang tebal di dalamnya, ini bisa jadi sumber utama. Penyebab kedua yang lebih spesifik untuk Bali: sumber air sumur yang mengandung sulfur. Beberapa area di sekitar Gunung Batur, Agung, atau kawasan vulkanik lain memiliki kandungan sulfur alami di air tanahnya. Saat air ini digunakan untuk mengisi kolam, bau belerang bisa ikut masuk. Ini lebih mudah dideteksi — baunya ada sejak pengisian awal, bukan muncul setelah kolam beroperasi beberapa waktu. Cara mengatasi kalau penyebabnya adalah bakteri: pertama, backwash filter secara menyeluruh dan bersihkan filter media kalau sudah lama tidak diganti. Vakum dasar kolam secara menyeluruh untuk mengangkat sedimen yang menjadi tempat bakteri berkembang. Kemudian superchlorination — dosis sangat tinggi untuk membunuh bakteri anaerob. Pastikan sirkulasi berjalan maksimal selama 24 jam setelah treatment. Untuk jangka panjang: perbaiki sirkulasi di seluruh kolam, tidak ada dead spot, pompa berjalan cukup lama setiap hari. Bakteri sulphur-reducing tidak bisa berkembang di air yang tersirkulasi dengan baik dan punya chlorine residual yang terjaga. Kalau penyebabnya adalah sumber air bersulfur: pertimbangkan aerasi air sebelum masuk kolam untuk melepaskan H₂S, atau gunakan filter khusus di jalur pengisian. Konsultasikan ke ahli water treatment untuk solusi yang tepat sesuai kandungan sulfur spesifik di sumber air Anda.