
Kalau kolam renang villa Anda di Gianyar — entah itu di Tegallalang, Payangan, Mas, atau sekitar Ubud — terasa cepat berkerak di waterline, atau air sering keruh padahal klorin dan pH sudah sesuai, ada kemungkinan besar akar masalahnya bukan di perawatan. Masalahnya ada di sumber air yang digunakan untuk mengisi kolam. Sebagian besar villa di Gianyar — terutama yang tidak terhubung ke jaringan PDAM atau yang lokasinya di daerah pegunungan seperti Payangan, Buahan, Kenderan — mengandalkan sumur bor atau sumur gali sebagai sumber air utama. Air tanah di kawasan ini, karena melewati lapisan batuan vulkanik dari Gunung Batur dan Gunung Agung, sering mengandung mineral dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Terutama kalsium dan magnesium — dua mineral utama yang menyebabkan "hard water" atau air sadah. **Apa yang terjadi kalau air sadah masuk ke kolam** Ketika kolam terus-menerus diisi ulang dengan air sadah, konsentrasi mineral di dalam kolam terakumulasi seiring waktu. Proses evaporasi memperparah ini: air menguap, tapi mineralnya tidak. Mereka tetap tinggal di kolam, dan konsentrasinya naik terus. Kalsium hardness yang terlalu tinggi — di atas 400–500 ppm — mulai menyebabkan masalah nyata. Yang paling terlihat adalah kerak putih keras di waterline, di permukaan ubin, di sekitar lampu underwater, dan di nozzle return. Kerak ini bukan cuma tidak enak dilihat, tapi juga susah dibersihkan kalau sudah mengeras. Di beberapa kolam yang kami tangani di sekitar Tegallalang dan Payangan, kerak yang menumpuk bertahun-tahun harus diangkat dengan acid wash — prosedur yang butuh waktu dan biaya tersendiri. Selain masalah kerak, air sadah juga mempengaruhi efektivitas klorin. Pada kesadahan yang sangat tinggi, klorin cenderung bereaksi dengan kalsium dan kehilangan sebagian efektivitasnya sebagai disinfektan. Hasilnya mirip dengan pH yang terlalu tinggi — kadar klorin terlihat bagus di test kit, tapi daya sanitasinya berkurang. **Total Dissolved Solids (TDS) yang terus menanjak** Parameter yang jarang dicek tapi penting untuk kolam dengan sumber air sumur adalah TDS — Total Dissolved Solids. Ini mengukur total semua mineral dan bahan terlarut dalam air. Air kolam yang sehat sebaiknya TDS-nya di bawah 1500 ppm. Air sumur di beberapa bagian Gianyar sudah mulai dengan TDS 300–500 ppm bahkan sebelum masuk ke kolam. Setelah digunakan berbulan-bulan tanpa partial drain, TDS bisa melonjak ke angka 2000 ppm atau lebih. Pada TDS setinggi itu, air kolam mulai terasa "berat" dan kurang nyaman untuk berenang. Kulit terasa sedikit lengket setelah keluar dari kolam. Dan tidak ada jumlah klorin atau koreksi pH yang bisa benar-benar memperbaiki masalah ini — satu-satunya solusi adalah membuang sebagian air dan mengisinya dengan air baru. **Yang bisa dilakukan** Pertama, cek TDS dan calcium hardness secara rutin — setidaknya sebulan sekali untuk kolam yang menggunakan sumber air sumur di Gianyar. Kalau TDS sudah di atas 1500 ppm atau hardness di atas 400 ppm, lakukan partial drain sekitar 20–30% dan isi ulang. Kedua, gunakan scale inhibitor atau sequestrant secara preventif, terutama di awal musim kemarau saat evaporasi tinggi. Ini produk yang mengikat mineral terlarut dan mencegah mereka mengendap sebagai kerak di permukaan. Kalau Anda tidak yakin dengan kondisi air sumur di villa Anda, kami bisa lakukan pengujian air lengkap termasuk TDS dan kesadahan. Surya Jaya Teknik tersedia di Ubud dan Lodtunduh. Hubungi kami sebelum masalah kerak bertambah parah.