Air Kolam Renang Selalu Berkurang: Evaporasi Normal atau Ada Kebocoran?

2026-05-22
Air Kolam Renang Selalu Berkurang: Evaporasi Normal atau Ada Kebocoran? - Pool Service Bali

Hampir setiap bulan ada saja owner villa yang menghubungi saya dengan pertanyaan yang mirip: "Air kolam saya selalu berkurang, normal tidak?" Dan jawabannya selalu tergantung berapa banyak dan kondisi apa. Air kolam yang berkurang itu wajar — di Bali yang panas dan berangin, evaporasi bisa cukup signifikan. Untuk kolam outdoor ukuran standar 30–40 m³, kehilangan air 2–4 cm per minggu karena evaporasi saja sudah normal, terutama di musim kemarau. Kalau kolam sering dipakai tamu, tambah lagi splash — air yang terbawa keluar karena aktivitas berenang. Untuk kolam yang ramai, splash bisa lebih banyak dari evaporasi. Masalah mulai ketika air berkurang lebih dari itu secara konsisten. Kalau level air turun 3–4 cm per hari atau lebih, perlu dicurigai ada kebocoran. Cara membedakan evaporasi dari kebocoran: ada tes sederhana yang disebut bucket test. Isi ember dengan air kolam, taruh di tepi kolam atau di step kolam sehingga kedua permukaan air (kolam dan ember) terkena kondisi lingkungan yang sama — sinar matahari, angin, suhu. Tandai level air di ember dan di kolam. Tunggu 24 jam tanpa menggunakan kolam. Setelah 24 jam: kalau level air kolam turun lebih banyak dari level air di ember, selisihnya adalah indikasi kebocoran. Kalau turun sama, itu murni evaporasi dan normal. Langkah berikutnya kalau dicurigai bocor: matikan pompa selama 24 jam dan ulangi pengukuran. Kalau penurunan level kolam lebih lambat saat pompa mati dibanding saat pompa nyala, kemungkinan kebocoran ada di sistem pipa — fitting, pipa return, atau suction line. Kalau sama saja, kemungkinan kebocoran di body kolam — retak di plester, tile yang copot, atau fitting underwater yang sealing-nya rusak. Kebocoran pada kolam sering terjadi di beberapa titik umum: area fitting underwater, jalur pipa yang menembus dinding kolam, area sekitar skimmer, dan di sambungan antara step kolam dengan dinding utama yang kadang retak karena perbedaan muai susut material. Untuk kolam di Bali yang usianya sudah lebih dari 5–7 tahun, micro-crack di plester adalah sumber kebocoran yang paling umum dan paling susah dideteksi secara visual. Kalau bucket test menunjukkan kebocoran tapi tidak ada tanda visual yang jelas, perlu pressure test pada sistem pipa untuk memastikan lokasi kebocorannya. Surya Jaya Teknik melayani leak detection dan perbaikan kebocoran kolam di area Ubud, Gianyar, dan Bali pada umumnya. Kalau kolam Anda terus berkurang air secara tidak normal, hubungi kami untuk asesmen.